Aksi Serentak Menolak Tambang (Dukungan Moril Atas Gerakan Wara Beutong)

SALAH-SALAH perusahan tambang telah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas 10.000 Ha di Gampong Beutong Ateuh, Kecamatan Nagan Raya. IUP tersebut keluar berdasarkan keputusan Bupati Nagan Raya tanggal 13 April 2013, sedangkan izin operasi didapatkan melalui Surat Keputusan Badan Koordinasi Penanamn Modal pada tanggal 19 Desember 2017.

Namun, keberadaan perusahaan tersebut mendapatkan rekasi negatif dari warga setempat. Sampai dengan postingan ini saya buat, warga telah melakukan aksi sebanyak dua kali untuk menolak keberadaan perusahaan tersebut. Aksi pertama warga lakukan pada tanggal 08 September 2018. Sedangkan aksi kedua dilakukan tanggal 18 September pada tahun yang sama.

Besok, 15 Oktober 2018, warga kembali melakukan aksi untuk menolak keberadaan perusahaan tersebut. Aksi ini akan dilakukan secara serentak di beberapa tempat. Diantaranya adalah di Pusat Ibu Kota (Jakarta), Banda Aceh, Aceh Tengah, Nagan Raya dan beberapa tempat lainya.

Postingan ini saya lakukan sebagai bentuk dukungan moril saya secara peribadi kepada warga Beutong Ateuh, atas sikap penolakan dari mereka terhadap keberadaan perusahaan tersebut. Kekhawatiran warga sangat mendasar atas dampak yang bakal terjadi akibat keberadaan perusahaan tersebut. Seperti dampak yang bakal terjadi terhadap sumber air, lahan pertanian, bencana ekologis, konflik sosial dan akan hilang situs sejarah.

Saya berharap kepada pihak yang berkepentingan, khususnya pemerintah untuk dapat merespon kasus ini secara bijak dan arif. Reakasi yang terjadi di akar rumpat untuk melakukan penolakan terhadap perusahaan tambang, menggambarkan bahwa keberadaan perusahaan tidak mendapatkan respon positif dari masyarakat.

Kalau pemerintah mengeluarkan kebijakan bedasarkan kepantingan masyarakat, maka sudah sepantasnya bagi pemerintah untuk menghentikan operasional perusahaan tersebut. Karena itu merupakan keinginan dan harapan dari masyarakat Beutong Ateuh yang sudah terlihat secara jelas dan nyata.

Munawir Abdullah

Fiksi dan Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *