Sepenggal Kenangan Bersama YIP

HAI STEEMIAN . . .

Semoga teman-teman semuanya sehat selalu. Di pagi menjelang siang ini, saya ingin membuat sebuah postingan tentang sosok yang sangat menginspirasi dalam dunia kemanusian. Tokoh yang sangat aktif dalam melakukan pembelaan tehadap hak-hak kemanusiaan di era tahun 1990-an atau 2000-an ke bawah.

Namun, dalam postingan ini tidak saya uraikan rekam jajak beliau selama puluhan tahun yang lalu. Hal itu dikarenakan keterbatasan bahan yang saya miliki, dan juga telah diuraikan secara detail oleh @saifuddin73 (Bang Saifuddin) melalui akun ini beberapa hari yang lalu, dengan judul postingan “Sang Penggugat MOI”.

Secara jujur saya sampaikan bahwa; postingan ini penuh dengan nuansa politis. Walapun saya bukan seorang kader partai, apalagi seorang politisi. Pun demikian, saya tidak pernah alergi dengan politik. Lewat kebijakan politiklah suatu bangsa dapat menjaga kewibawaannya, dapat menjaga keamanan dan pertahanannya, dapat menstabilkan perekonomiannya dan juga sebaliknya. Lewat kebijakan politik juga dapat menindas, merampok dan menindas hak-hak orang.

Kembali ketema postingan, nama Beliau H. Yusuf Ismail Pase SH, MH (YIP). Putra asli Aceh yang lahir di Kabupaten Aceh Utara. Aktifis kemanusiaan ini saya kenal beberapa tahun yang lalu. Saat itu, melalui sebuah lembaga, saya sedang mengadvokasi salah-satu kasus kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pemanfaatan hasil hutan.

Yusuf Ismail Pase, merupakan orang pertama yang saya jumpai untuk meminta pandangan hukumnya. Tidak kurang dari sepuluh kali, kami berdiskusi dan berdebat mengenai kasus tersebut, guna mencari jalan keluarnya. Lewat analisa dan pandangan hukum beliau, sehinga kasus tersebut berakhir di pengadilan.

Salah-satu sifat yang paling saya sukai dari beliau adalah; kedisiplinan dan keseriusan beliau dalam menangani kasus tersebut. Sempat beberapa kali saya kewalahan dengan waktu yang telah saya sepakati dengan beliau.

Saya ingin betul, itu pertemuan ke empat. Kami berjanji akan bertemu pukul 08.00 pagi di salah-satu warkop untuk melanjutkan diskusi mengenai kasus tersebut. Setiba saya pukul 08.10 menit, Yusuf Ismail Pase sudah standby lengkap dengan secangkir kopi di atas mejanya. Dalam kondisi serba salah saya langsung menyapa beliau “Sudah lama Pak?”, “lumayan, seperti janji kemarin” jawabnya singkat.

Namun, dengan sikapnya yang penuh humoris, kondisi itu kembali cair seperti semula.

Sepenggal Kenangan Bersama Yusuf Ismail Pase.

Munawir Abdullah

Fiksi dan Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *