Ini Duka Kita Bersama

WALAUPUN gempa bumi yang menimpa Donggala dan Palu yang terjadi pada hari Jumat tanggal 28 September 2018, belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Namun respon masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, menggambarkan bahwa rasa senasib dan sepenanggungan atas bencana yang telah menimpa saudara-saudara kita masih terasa.

Mahasiswa/i di Kabupaten Aceh Utara misalnya, langsung merespon peristiwa tersebut dengan turun ke jalan untuk melakukan penggalangan dana. Begitu juga respon sebagian pemimpin-pemimpin yang ada di Propinsi dan Kabupaten/Kota. Semua warga bersimpati dengan musibah tersebut, termasuk Front Pembela Islam (FPI) ikut mengambil peranan dalam menangani musibah tersebut.

Kebersamaan ini perlu di rawat dengan baik dan di jaga secara bersama-sama. Manusia selaku mahluk sosial, tentu tidak bisa hidup sendiri-sendiri, kekuatan terbesarnya berada pada rasa kebersamaan; senasib dan sepenanggungan. Bukankah leluhur kita telah menitipkan kepada kita sebuah pepatah kuno yang sangat sarat dengan makna kebersamaan.

”Ringan Sama Dijinjing Berat Sama Dipikul”

Mungkin, lewat penghayatan pepatah kuno itulah sehingga tergugah hati anak-anak bangsa untuk saling membantu satu sama lain. Semoga saudara-saudara kita yang di timpa musibah Gempa Bumi dan Tsunami di Donggala dan Palu, Propinsi Sulewesi Tengah dapat sabar dalam mengahadapi cobaan ini.

Munawir Abdullah

Fiksi dan Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *