Pilihlah Berdasarkan Kualitas

AKU merasa kesal dengan tingkah mu itu”

Kekesalannya itu mulai muncul, sejak ia pulang dari salah-satu tempat. Ia menjadi seperti orang kerasukan syaitan. Setiap orang berbicara tentang politik, birahinya naik dan berakhir dengan kata-kata sepah serapah yang menjijikkan.

Dua hari yang lalu, saat Bahan Bakar Minyak (BBM) Naik, Ia juga yang paling lantang menyuarakan sepah serapah terhadap pemimpin negeri ini. “Dasar pemimpin tolol, tidak berpihak kepada rakyat, hanya untuk memperkaya konco-konconya sendiri, manusia tidak bermoral, tidak beretika”. Dan sederetan cacimaki-cacimaki lainnya, itu seperti doa yang sudah mendarah daging dalam kehidupannya sehari-hari.

Seharusnya Ia tahu, bahwa “semua kebijakan” bermuara pada keputusan politik. Semua sepah serapah, cacimaki dan sederetan upatan lainya, tidak dapat menyelamatkan bangsa ini. Bukankah orang bijak pernah mengatakan “Pemimpin yang lahir di suatu tempat, merupakan cerminan dari rakyatnya sendiri”.

Waktu sudah tiba, rakyat sudah saatnya untuk menunjukkan jati dirinya sendiri. Evaluasi terbaik ada di tangan rakyat, mereka yang merasakan secara langsung kebijakan-kebijakan yang telah dilahirkan pemimpinya.

Naiknya harga BBM, merupakan cuplikan kebijakan yang telah mereka ambil. Sedangkan rakyat menjadi penerima secara langsung kebijakan tersebut. Tidak ada kesempatan negosiasi, apalagi sepah serapah dan cacimaki, rakyat dipaksakan untuk menerima kebijakan yang telah ambil.

Sudah menjadi persoalan klasik, masyarakat menentukan pilihan berdasarkan kedekatan emosial, jual beli suara, dan iming-iming tertentu setelah/bila terpilih nantinya. Sehingga kualitas (kemampuan) calon pemimpin tidak lagi menjadi dasar pertimbangan untuk menentukan pilihannya.

Itu sebenarnya yang perlu disadari, bukan sepah serapah, cacimaki atau hujatan-hujatan lainnya.

Munawir Abdullah

Fiksi dan Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *